Document Tagger
Tag Document with Title and Text
This is a sample client for tagDocumentWithTitleAndText operation in DocumentTagger web service. Here is an example of input for this operation:

Document Name:
Berita Lingkungan

Document Content:

Tar Ball Ancam Kelestarian Kepulauan Seribu

Dok Taman Nasional Kepulauam Seribu
Tar Ball - Kawasan Kepulauan Seribu, Jakarta, selama 2004 lalu, beberapa kali tercemar limbah minyak berupa tar ball. Salah satunya terjadi di Pulau Pramuka pada 11 Oktober 2004.
Masyarakat kepulauan yang se-bagian besar menggantungkan hidup mereka pada hasil laut menjadi resah dibuatnya. Seperti dikemukakan Gozali, warga di sana, ketika diterima Menteri Lingkungan Hidup, Rachmat Witoelar, Selasa (21/12) lalu. Dia mengibaratkan pencemaran itu sebagai teror yang bakal mengancam kehidupan masyarakat. "Masyarakat nelayan Kepulauan Seribu tidak bisa mencari ikan ke wilayah lain, seperti dulu lagi. Kami mau tak mau harus mencari ikan di wilayah sendiri. Oleh sebab itu, pencemaran tidak bisa dibiarkan berlarut-larut, dan pelakunya harus dijatuhi sanksi," tuturnya.
Tidak hanya masyarakat nelayan. Warga yang mencari nafkah di sektor pariwisata pun menjadi resah. Kesaksian Ardiansyah, yang kerap memandu selam para wisatawan di sana, limbah minyak yang mencemari kawasan itu pun merusak terumbu karang.
"Pencemaran tidak hanya di permukaan saja. Limbah juga menyerang terumbu karang dan tampak di dasar laut di kedalaman sembilan hingga 10 meter," paparnya. Karena keindahan bawah laut juga tercemar, imbuhnya, wisatawan asing, yang banyak menggemari selam, mempercepat liburannya di sana.
Hal senada dikemukakan Kumaidi, aktivis lingkungan, yang bersama rekan-rekannya di Yayasan Mangrove, berupaya mempertahankan kelestarian hutan mangrove di Pulau Rambut, Kepulauan Seribu. Di pulau yang menjadi tempat persinggahan burung, tuturnya, pun tercemar limbah minyak. Yang menjadi korban adalah hutan mangrove.
Pencemaran oleh limbah sampah saja, tuturnya, sudah mengancam kelestarian mangrove, apalagi tercemar limbah minyak. Daya rusaknya, menurut dia, sangat besar, karena di daerah yang tercemar tak bisa lagi ditanami bibit baru. "Bahkan dari tanaman yang ada tidak kelihatan lagi tunas mudanya," ujarnya. Dan bila kondisi ini dibiarkan belarut-larut, imbuhnya, bukan tak mungkin beberapa tahun ke depan hutan mangrove seluas 18 hektare di sana benar-benar habis.

Tujuh Kali
Kepala Taman Nasional Kepulauan Seribu, Sumarto, lebih pusing lagi. Sebagai penanggung jawab kawasan pelestarian alam seluas 107,498 hektare - luas kawasan taman nasional 15 persen dari luas Kabupaten Kepulauan Seribu, Jakarta - telah mencatat tujuh kali gumpalan minyak berupa tar ball menghampar di kawasan yang berfungsi sebagi perlindungan sistem penyangga kehidupan, pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa, serta pemanfaatan secara lestari sumber daya alam hanyati dan ekosistemnya.
Namun dia tidak tinggal diam. Sumarto berkoordinasi dengan Bupati Kepulauan Seribu, kepolisian dan pihak Kementrian Lingkungan Hidup, di samping Departemen Kehutanan sebagai instansi induknya. "Kepulauan Seribu kan masih wilayah Jakarta yang secara internasional dikenal sebagai ibu kota negara," tuturnya.
Limbah minyak berupa tar ball, ujarnya, mengapung di permukaan laut Kepulauan Seribu dan terdampar di pulau-pulau kecil. Tar ball yang mengapung itu mematikan biota-biota laut yang ada di dalamnya. Dalam catatannya, pencemaran minyak terjadi sejak Desember 2003 dan terus terjadi hingga April dan Mei 2004. Pencemaran juga terulang kembali pada Oktober dan November 2004 lalu.
Pencemaran pada tanggal 5 Oktober dan 18 November lalu bisa langsung diketahui karena sisa-sisa minyak itu terbawa ke perairan sekitar pulau-pulau yang berpenduduk. "Ketika itu, kami hanya bisa bengong menonton saja. Kami tidak tahu dari mana dan bagaimana datangnya limbah minyak-minyak itu," ujar Sumarto.
Sisa tar ball itu juga ditemukan di pulau-pulau lain selain Pulau Pramuka. Namun tar ball itu memiliki ciri yang sama, berwarna coklat hingga hitam dan memiliki kepekatan yang tinggi.
Selain itu, tuturnya, di sekitar pulau-pulau yang tercemar itu tersebar bau minyak tanah yang menyengat. Menurut sejumlah penduduk di Pulau Pramuka, tar ball itu pada siang hari mencari dan menyebar bau, tetapi pada malam hari kembali menggumpal.
Akibat dari pencemaran itu, sekitar 7.000 ikan bandeng yang dipelihara oleh nelayan mati. Tidak hanya itu, seekor lumba-lumba juga mati dengan badan penuh tar ball di temukan di Pulau Pramuka.

Penyu Sisik Terganggu
Penyu sisik yang banyak hidup di sekitar kepulauan itu pun terganggu. Jumlah telur rata-rata penyu sisik setiap tahunnya berkisar 4.363 butir, tetapi menjelang akhir tahun ini telur satwa langka itu hanya 2.620 butir saja.
Belum lagi kondisi telur itu yang tidak normal. Sebanyak 905 butir telur tidak berembrio dan 110 butir telur berembrio mati. Terakhir empat bayi penyu mengalami cacat dan akhirnya mati.
Sumarto menjelaskan bahwa ada tiga komponen penting untuk menunjang ekosistem di Kepulauan Seribu. "Mangrove, lamun, dan terumbu karang harus di jaga agar biota laut bisa hidup," ujarnya.
Menanam mangrove di Kepulauan Seribu, jelasnya, sangat susah karena jarang sekali ditemukan media lumpur agar tumbuhan itu bisa hidup. Padahal hasil dari mangrove ini dapat digunakan oleh lamun dan seterusnya digunakan oleh terumbu karang," papar Sumarto.
Sumarto sangat menyesalkan terjadinya pencemaran itu karena untuk memperbaiki kondisi ekosistem di sana diperlukan waktu puluhan tahun dan belum tentu biota laut bisa diselamatkan semua.
"Selain mengganggu kondisi lingkungan, secara sosial masyarakat juga terganggu. Mereka saat jni mulai berubah dari nelayan tradisional menjadi nelayan yang memiliki budi daya perikanan. Jika budidaya mereka mati, maka mereka akan kembali menebar jala di laut," ujar Sumarto.
Yang disayangkan, penambang minyak tak jauh dari kawasan tamana nasional itu justru berupaya membalikan pencemaran itu menjadi lapangan kerja bagi masyarakat. Perusak lingkungan mengerahkan masyarakat untuk membersihkan limbah dengan imbalan uang.
"Mereka mendapat upah Rp 25.000 per hari. Tentu saja mereka senang karena hasil laut mereka juga tidak terlalu bagus. Tetapi sebenarnya hal itu juga tidak menyelesaikan persoalan yang ada," jelas Sumarto.
Siapa pencemarnya, Sumarto menduga, berasal dari industri pengeboran minyak yang berada tidak jauh dari lokasi itu. "Ada dua perusahaan yang melakukan pengeboran lepas pantai dengan jarak sekitar 15 kilometer dari Pulau Pramuka," ujarnya.
Dia berharap, ada penegakan hukum secara tegas dan konsisten baik dalam perkara pidana maupun perdata yang terkait dalam proses pencemaran ini. Selain itu diperlukan pengawasan yang melekat dalam proses operasional migas, baik dalam pengeboran atau dalam pengirimannya. (K-11/W-5) Last modified: 31/12/04

Document name:


Document Content




These Services Powered by Enterprise Computing Lab (ECL) Server
By using the services provided here, it means that you have agreed on the following Term and Conditions
2008 - Multilab Research - Faculty of Computer Science, University of Indonesia
Template by Anubis (SCCUISFD Workshop). Modified by Multilab Research Team